STT Aletheia dan Tim Misi Indonesian Presbyterian Church Randwick Sydney
Australia pada hari Rabu, 19 Agustus 2026 mengadakan Seminar Misiologi khusus
bagi Dosen dan Mahasiswa STT Aletheia dengan tema Serving God’s Mission In
God’s World dengan
pembicara Rev. Kevin Murray (Director of Australian Presbyterian World Mission). Seminar yang diikuti oleh seluruh Dosen dan Mahasiswa STT Aletheia ini
diadakan secara on-site di ruang Getsemani (Chapel Malam) diterjemahkan oleh
Pdt. Markus Dominggus, DSA.
Dalam pokok bahasannya, Rev. Kevin Murray mengatakan bahwa misi dalam Perjanjian Lama, misi berasal
dari Allah dan rencana Allah (Missio Dei). Bahkan adanya karya penciptaan
manusia diciptakan untuk mengenal dan menyembah Allah. Kejatuhan manusia dosa
merusak hubungan dengan Allah, tetapi Allah menjanjikan Penyelamat (Kej. 3:15).
Melalui Abraham semua bangsa akan mendapat berkat (Kej. 12:1-3), dan Kristus Yesus
menggenapi janji Allah kepada Abraham. Bangsa Israel dipilih menjadi kerajaan imam dan bangsa yang kudus (Kel.
19:5-6). Misi Israel menjadi terang bagi bangsa-bangsa melalui kehidupan yang
taat kepada Allah. Tetapi, kegagalan Israel adalah penyembahan berhala yang membuat Israel
gagal menjadi terang. Tetapi, Allah
mengasihi bangsa-bangsa sehingga melalui kisah Yunus menunjukkan Allah ingin
bangsa lain juga bertobat. Sehingga perlu juga Hamba Tuhan untuk membawa
keselamatan kepada bangsa-bangsa (Yes. 42; 49). Sehingga pada Kesimpulannya Misi Allah sejak awal ditujukan kepada semua
bangsa dan digenapi dalam Kristus.
Misi dalam Perjanjian Baru
Tujuan dari misi Allah membawa sejarah menuju kemenangan dan keselamatan
segala bangsa. Misi Yesus tidak hanya
untuk Israel, tetapi untuk semua bangsa. Melalui Matius, Yesus memberikan Amanat Agung untuk menjadikan
semua bangsa murid. Dalam Kitab Lukas, Yesus adalah terang bagi bangsa-bangsa. Dalam
Kitab Yohanes, Allah mengasihi seluruh
dunia (Yoh. 3:16). Perempuan Samaria — Menjadi contoh orang yang bersaksi dan
membawa orang lain kepada Kristus. Sehingga dalam Misi gereja, gereja melanjutkan misi Kristus melalui Roh
Kudus. Dalam Kitab Kisah Para Rasul 1:8 Injil bergerak dari Yerusalem ke Yudea, Samaria ujung bumi. Pada peristiwa Pentakosta,
Roh Kudus memberi kuasa untuk menjadi saksi Kristus. Sehingga Perluasan Injil mencapai Samaria,
Etiopia, Kornelius, hingga Roma. Membentuk Identitas gereja, karenna Gereja
adalah umat pilihan yang dipanggil memberitakan Allah (1 Ptr. 2:9). Dalam Perubahan misi PL bangsa-bangsa datang, lalu dalam PB gereja
pergi kepada bangsa-bangsa. Sehingga Hasil akhi Umat dari semua bangsa akan
menyembah Allah (Why. 7:9-17). Soli Deo Gloria.
Posted on 21 August 2026
STT Aletheia dan Tim Misi Indonesian Presbyterian Church Randwick Sydney
Australia pada hari Rabu, 19 Agustus 2026 mengadakan Seminar Misiologi khusus
bagi Dosen dan Mahasiswa STT Aletheia dengan tema Serving God’s Mission In
God’s World dengan
pembicara Rev. Kevin Murray (Director of Australian Presbyterian World Mission). Seminar yang diikuti oleh seluruh Dosen dan Mahasiswa STT Aletheia ini
diadakan secara on-site di ruang Getsemani (Chapel Malam) diterjemahkan oleh
Pdt. Yunus Sutandio, M.C.M.
Dalam seminar ini, Rev. Kevin Murray menjelaskan bahwa misi Allah telah
dimulai sejak penciptaan manusia. Allah menciptakan manusia menurut gambar dan
rupa-Nya. Namun, manusia kemudian jatuh ke dalam dosa. Meskipun demikian,
kejatuhan manusia ke dalam dosa tidak menggagalkan rencana dan misi Allah.
Allah tetap memiliki cara untuk melaksanakan misi-Nya. Salah satunya adalah
melalui janji yang diberikan kepada Abraham, bahwa ia akan menjadi bapa bagi
bangsa-bangsa dan memiliki keturunan yang sangat banyak. Puncak dari janji
tersebut digenapi melalui Yesus Kristus sebagai keturunan Abraham dan sebagai
keturunan perempuan yang dijanjikan sejak awal sejarah keselamatan. Wujud nyata
dari misi Allah semakin terlihat dan berkembang ketika Yesus Kristus memulai
pelayanan-Nya di dunia. Melalui pelayanan, pengajaran, kematian, dan
kebangkitan-Nya, Yesus menyatakan keselamatan Allah kepada manusia. Setelah
itu, para rasul diberikan tanggung jawab untuk meneruskan pemberitaan Injil
kepada berbagai bangsa. Amanat tersebut tidak hanya ditujukan kepada kelompok
tertentu, tetapi kepada seluruh dunia, sehingga setiap bangsa dapat mendengar
berita keselamatan di dalam Yesus Kristus.
Kekristenan dalam Dunia Masa Kini
Dalam dunia
masa kini, kekristenan telah berkembang dan memiliki jumlah penganut yang sangat
besar. Diperkirakan terdapat sekitar 2,6 miliar orang yang mengidentifikasi
diri sebagai orang Kristen. Namun, jumlah tersebut tidak secara otomatis
menunjukkan bahwa semua orang yang menyebut dirinya Kristen telah mengalami
hidup baru di dalam Kristus atau benar-benar memahami imannya. Oleh karena itu,
pemberitaan Injil tetap menjadi kebutuhan yang penting. Hal ini juga dapat
dilihat dalam konteks Australia, di mana perkembangan kekristenan mengalami
kemerosotan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa gereja tidak boleh hanya
berdiam diri dan mempertahankan keadaan yang ada. Gereja, khususnya para
pemimpin Kristen, dipanggil untuk mengambil tindakan nyata dalam menjalankan
misi Allah. Gereja perlu kembali menyadari bahwa tugasnya bukan hanya
mempertahankan keberadaan institusi gereja, tetapi juga membawa Injil kepada
dunia dan menjadi saksi Kristus.
Permulaan
Gereja Masa Kini
Tidak mengherankan
apabila gereja masa kini menghadapi pergumulan yang serupa. Banyak orang datang
beribadah dan menjadi bagian dari kehidupan gereja, tetapi belum tentu semuanya
memahami identitas mereka sebagai umat Allah yang kudus dan umat pilihan-Nya.
Sebagai umat Allah, orang percaya seharusnya memiliki orientasi hidup yang
tidak hanya berpusat pada kepentingan pribadi, tetapi juga memiliki kepedulian
terhadap pemberitaan Injil dan perluasan Kerajaan Allah. Salah satu persoalan
tersebut dapat dilihat dalam perjalanan sejarah kekristenan ketika agama
Kristen mulai mendapat pengakuan dalam Kekaisaran Romawi. Ketika agama dan
politik kemudian memiliki hubungan yang sangat erat, terjadi perubahan dalam orientasi
kehidupan gereja. Semangat untuk memberitakan Injil dalam beberapa konteks
mengalami kemunduran karena perhatian sebagian pemimpin gereja mulai bergeser
kepada kepentingan duniawi dan kekuasaan. Dalam perjalanan sejarah tersebut
juga muncul berbagai persoalan, termasuk penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi. Oleh
karena itu, gereja pada masa kini perlu kembali kepada hakikat panggilannya
sebagai umat Allah. Gereja dipanggil bukan hanya untuk berkumpul dan
melaksanakan kegiatan keagamaan, tetapi juga untuk mengambil bagian dalam misi
Allah di tengah dunia. Setiap orang percaya perlu memahami identitasnya sebagai
umat yang telah dipanggil dan diselamatkan oleh Allah serta memiliki tanggung
jawab untuk menjadi saksi Kristus. Dengan demikian, gereja dapat terus
menjalankan misi Allah secara nyata di tengah perubahan dan berbagai tantangan
dunia masa kini.
Posted on 21 August 2026
Kemitraan strategis antara
Haggai Institute Indonesia dan STT Aletheia mewujud nyata dalam Seminar
Kepemimpinan Kristen Nasional. Seminar
yang menggabungkan
mahasiswa dari berbagai tempat di Indonesia dengan mentor-mentor dan
fasilitator-fasilitstor bereputasi nasional ini diadakan pada tanggal 11-14 Agustus 2026 di STT
Aletheia. Dalam salah satu tujuannya, seminar ini menjadi wahana pembentukan karakter pemimpin masa depan.
Seminar Kepemimpinan ini menghadirkan pakar-pakar
dalam keilmuan dan pengalamannya di tempat pelayanan antara lain, Bpk. Dr. Tony Antonio (Ketua Ciputra School of Business Surabaya), Ibu Maureen Rina Tuahatu -
Rustandi (Konsultan Komunikasi di Playgroup Asia dan Yayasan Sahabat Peduli
Bumi), Ibu Pdt. Ynonny Nainupu, M.Pd. (Dosen PAK STT Simpson Ungaran), dan Ibu Ev. Dr. Linda Bustan (Ketua
Departemen Mata Kuliah Umum Universitas Kristen Petra, Surabaya).
Melalui materi strategis
seperti The Calling, Call to Lead, Stewardship, dan Goal Setting,
para pengajar tidak hanya mengajar, tetapi menanamkan visi. Kesaksian para
peserta menjadi bukti hidup bahwa seminar ini telah memicu refleksivitas tajam,
membongkar paradigma lama, dan menginjeksi keberanian baru bagi para pemimpin
muda untuk mengabdi secara relevan dan berdampak. Soli Deo gloria!
Posted on 19 August 2026