BERITA DAN ACARA

 

Serving God’s Mission In God’s World - 20 Agustus 2026

STT Aletheia dan Tim Misi Indonesian Presbyterian Church Randwick Sydney Australia pada hari Rabu, 19 Agustus 2026 mengadakan Seminar Misiologi khusus bagi Dosen dan Mahasiswa STT Aletheia dengan tema Serving God’s Mission In God’s World dengan pembicara Rev. Kevin Murray (Director of Australian Presbyterian World Mission). Seminar yang diikuti oleh seluruh Dosen dan Mahasiswa STT Aletheia ini diadakan secara on-site di ruang Getsemani (Chapel Malam) diterjemahkan oleh Pdt. Markus Dominggus, DSA.

Dalam pokok bahasannya, Rev. Kevin Murray mengatakan bahwa misi dalam Perjanjian Lama, misi berasal dari Allah dan rencana Allah (Missio Dei). Bahkan adanya karya penciptaan manusia diciptakan untuk mengenal dan menyembah Allah. Kejatuhan manusia dosa merusak hubungan dengan Allah, tetapi Allah menjanjikan Penyelamat (Kej. 3:15). Melalui Abraham semua bangsa akan mendapat berkat (Kej. 12:1-3), dan Kristus Yesus menggenapi janji Allah kepada Abraham. Bangsa Israel dipilih menjadi kerajaan imam dan bangsa yang kudus (Kel. 19:5-6). Misi Israel menjadi terang bagi bangsa-bangsa melalui kehidupan yang taat kepada Allah. Tetapi, kegagalan Israel  adalah penyembahan berhala yang membuat Israel gagal menjadi terang.  Tetapi, Allah mengasihi bangsa-bangsa sehingga melalui kisah Yunus menunjukkan Allah ingin bangsa lain juga bertobat. Sehingga perlu juga Hamba Tuhan untuk membawa keselamatan kepada bangsa-bangsa (Yes. 42; 49). Sehingga pada Kesimpulannya Misi Allah sejak awal ditujukan kepada semua bangsa dan digenapi dalam Kristus.

Misi dalam Perjanjian Baru

Tujuan dari misi Allah membawa sejarah menuju kemenangan dan keselamatan segala bangsa. Misi Yesus  tidak hanya untuk Israel, tetapi untuk semua bangsa. Melalui Matius,  Yesus memberikan Amanat Agung untuk menjadikan semua bangsa murid. Dalam Kitab Lukas, Yesus adalah terang bagi bangsa-bangsa. Dalam Kitab Yohanes,  Allah mengasihi seluruh dunia (Yoh. 3:16). Perempuan Samaria — Menjadi contoh orang yang bersaksi dan membawa orang lain kepada Kristus. Sehingga dalam Misi gereja,  gereja melanjutkan misi Kristus melalui Roh Kudus. Dalam Kitab Kisah Para Rasul 1:8 Injil bergerak dari Yerusalem  ke Yudea,  Samaria ujung bumi. Pada peristiwa Pentakosta, Roh Kudus memberi kuasa untuk menjadi saksi Kristus.  Sehingga Perluasan Injil mencapai Samaria, Etiopia, Kornelius, hingga Roma. Membentuk Identitas gereja, karenna Gereja adalah umat pilihan yang dipanggil memberitakan Allah (1 Ptr. 2:9).  Dalam Perubahan misi  PL bangsa-bangsa datang, lalu dalam PB gereja pergi kepada bangsa-bangsa. Sehingga Hasil akhi Umat dari semua bangsa akan menyembah Allah (Why. 7:9-17). Soli Deo Gloria.


Posted on 21 August 2026



Serving God’s Mission In God’s World - 19 Agustus 2026

STT Aletheia dan Tim Misi Indonesian Presbyterian Church Randwick Sydney Australia pada hari Rabu, 19 Agustus 2026 mengadakan Seminar Misiologi khusus bagi Dosen dan Mahasiswa STT Aletheia dengan tema Serving God’s Mission In God’s World dengan pembicara Rev. Kevin Murray (Director of Australian Presbyterian World Mission). Seminar yang diikuti oleh seluruh Dosen dan Mahasiswa STT Aletheia ini diadakan secara on-site di ruang Getsemani (Chapel Malam) diterjemahkan oleh Pdt. Yunus Sutandio, M.C.M.

Dalam seminar ini, Rev. Kevin Murray menjelaskan bahwa misi Allah telah dimulai sejak penciptaan manusia. Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Namun, manusia kemudian jatuh ke dalam dosa. Meskipun demikian, kejatuhan manusia ke dalam dosa tidak menggagalkan rencana dan misi Allah. Allah tetap memiliki cara untuk melaksanakan misi-Nya. Salah satunya adalah melalui janji yang diberikan kepada Abraham, bahwa ia akan menjadi bapa bagi bangsa-bangsa dan memiliki keturunan yang sangat banyak. Puncak dari janji tersebut digenapi melalui Yesus Kristus sebagai keturunan Abraham dan sebagai keturunan perempuan yang dijanjikan sejak awal sejarah keselamatan. Wujud nyata dari misi Allah semakin terlihat dan berkembang ketika Yesus Kristus memulai pelayanan-Nya di dunia. Melalui pelayanan, pengajaran, kematian, dan kebangkitan-Nya, Yesus menyatakan keselamatan Allah kepada manusia. Setelah itu, para rasul diberikan tanggung jawab untuk meneruskan pemberitaan Injil kepada berbagai bangsa. Amanat tersebut tidak hanya ditujukan kepada kelompok tertentu, tetapi kepada seluruh dunia, sehingga setiap bangsa dapat mendengar berita keselamatan di dalam Yesus Kristus.

Kekristenan dalam Dunia Masa Kini

Dalam dunia masa kini, kekristenan telah berkembang dan memiliki jumlah penganut yang sangat besar. Diperkirakan terdapat sekitar 2,6 miliar orang yang mengidentifikasi diri sebagai orang Kristen. Namun, jumlah tersebut tidak secara otomatis menunjukkan bahwa semua orang yang menyebut dirinya Kristen telah mengalami hidup baru di dalam Kristus atau benar-benar memahami imannya. Oleh karena itu, pemberitaan Injil tetap menjadi kebutuhan yang penting. Hal ini juga dapat dilihat dalam konteks Australia, di mana perkembangan kekristenan mengalami kemerosotan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa gereja tidak boleh hanya berdiam diri dan mempertahankan keadaan yang ada. Gereja, khususnya para pemimpin Kristen, dipanggil untuk mengambil tindakan nyata dalam menjalankan misi Allah. Gereja perlu kembali menyadari bahwa tugasnya bukan hanya mempertahankan keberadaan institusi gereja, tetapi juga membawa Injil kepada dunia dan menjadi saksi Kristus.

Permulaan Gereja Masa Kini

Tidak mengherankan apabila gereja masa kini menghadapi pergumulan yang serupa. Banyak orang datang beribadah dan menjadi bagian dari kehidupan gereja, tetapi belum tentu semuanya memahami identitas mereka sebagai umat Allah yang kudus dan umat pilihan-Nya. Sebagai umat Allah, orang percaya seharusnya memiliki orientasi hidup yang tidak hanya berpusat pada kepentingan pribadi, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap pemberitaan Injil dan perluasan Kerajaan Allah. Salah satu persoalan tersebut dapat dilihat dalam perjalanan sejarah kekristenan ketika agama Kristen mulai mendapat pengakuan dalam Kekaisaran Romawi. Ketika agama dan politik kemudian memiliki hubungan yang sangat erat, terjadi perubahan dalam orientasi kehidupan gereja. Semangat untuk memberitakan Injil dalam beberapa konteks mengalami kemunduran karena perhatian sebagian pemimpin gereja mulai bergeser kepada kepentingan duniawi dan kekuasaan. Dalam perjalanan sejarah tersebut juga muncul berbagai persoalan, termasuk penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi. Oleh karena itu, gereja pada masa kini perlu kembali kepada hakikat panggilannya sebagai umat Allah. Gereja dipanggil bukan hanya untuk berkumpul dan melaksanakan kegiatan keagamaan, tetapi juga untuk mengambil bagian dalam misi Allah di tengah dunia. Setiap orang percaya perlu memahami identitasnya sebagai umat yang telah dipanggil dan diselamatkan oleh Allah serta memiliki tanggung jawab untuk menjadi saksi Kristus. Dengan demikian, gereja dapat terus menjalankan misi Allah secara nyata di tengah perubahan dan berbagai tantangan dunia masa kini.


Posted on 21 August 2026



Seminar Kepemimpinan Kristen Nasional (Haggai Indonesia)

Kemitraan strategis antara Haggai Institute Indonesia dan STT Aletheia mewujud nyata dalam Seminar Kepemimpinan Kristen Nasional. Seminar yang menggabungkan mahasiswa dari berbagai tempat di Indonesia dengan mentor-mentor dan fasilitator-fasilitstor bereputasi nasional ini diadakan pada tanggal 11-14 Agustus 2026 di STT Aletheia. Dalam salah satu tujuannya, seminar ini menjadi wahana pembentukan karakter pemimpin masa depan.

Seminar Kepemimpinan ini menghadirkan pakar-pakar dalam keilmuan dan pengalamannya di tempat pelayanan antara lain, Bpk. Dr. Tony Antonio (Ketua Ciputra School of Business Surabaya), Ibu Maureen Rina Tuahatu - Rustandi (Konsultan Komunikasi di Playgroup Asia dan Yayasan Sahabat Peduli Bumi), Ibu Pdt. Ynonny Nainupu, M.Pd. (Dosen PAK STT Simpson Ungaran), dan Ibu Ev. Dr. Linda Bustan (Ketua Departemen Mata Kuliah Umum Universitas Kristen Petra, Surabaya).

Melalui materi strategis seperti The Calling, Call to Lead, Stewardship, dan Goal Setting, para pengajar tidak hanya mengajar, tetapi menanamkan visi. Kesaksian para peserta menjadi bukti hidup bahwa seminar ini telah memicu refleksivitas tajam, membongkar paradigma lama, dan menginjeksi keberanian baru bagi para pemimpin muda untuk mengabdi secara relevan dan berdampak. Soli Deo gloria!


Posted on 19 August 2026